Posted by: alphonsuz | 30 May , 2008

Candi Prambanan Riwayatmu Kini

Candi Prambanan

Beberapa saat yang lalu aku melakukan kunjungan ke tempat wisata terkenal di Jawa Tengah, Candi Prambanan namanya. Candi merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Asia Tenggara memiliki 3 candi utama dan 224 buah candi perwara. Dibangun pada sekitar tahun 900 Masehi, candi ini termasuk dalam daftar warisan dunia Unesco pada tahun 1991. Wow, setelah 10 abad atau seribu tahun, candi ini baru diakui secara resmi oleh dunia. Candi yang terkena gempa pada tanggal 27 Mei 2006 ini masih dalam proses pemulihan. Tidak hanya pemerintah Indonesia, UNESCO pun turut serta dalam proses rehabilitasi ini. Tapi apakah itu merupakan tanggung jawab mereka? Aku rasa tidak, ini adalah tanggung jawab kita meskipun kita merasa tidak mampu untuk ikut melestarikan. Salah!!! Sekecil apapun kontribusi kita, itu akan menunjukkan rasa memiliki dan turut melestarikan warisan dunia yang di titipkan oleh nenek moyang kita. Baiklah… tapi seperti apakah kontribusi yang bisa kita berikan? Menulis tentang candi ini di blog atau memberikan sumbangan? Sebenarnya ada sederhana yang dapat kita lakukan yaitu menjaga kebersihan. Sangat sederhana tapi inilah yang aku lihat sendiri dengan mata kepalaku.

Dalam perjalanan melalui “puing-puing” candi, aku dan teman-teman ikut dalam keramaian yang terdiri dari berbagai macam daerah dan bangsa. Aku melihat beberapa anak muda generasi penerus bangsa sedang duduk santai disuatu pojok candi. Apa yang aneh dari situ? tidak ada! Tapi hal yang memalukan terjadi adalah ketika seorang bule yg berada didepan aku membungkuk, mengambil sebuah botol air kosong yang tergeletak disamping generasi muda itu dan meletakkannya pada tempat sampah yang berada di depan generasi muda kita. Aku tidak tahu reaksi mereka, tapi yang pasti aku malu. Bangkit itu malu kata bung Deddy Mizwar, malu karena martabat bangsa di injak-injak (Hmm.. kayanya versi aslinya ga gini deh). Bangkit itu marah, marah karena martabat bangsa di lecehkan, aku yakin para generasi muda itu marah… karena mereka dilecehkan karena “tamu” tersebut melakukan aksi sok bersih di depan mereka. Pertanyaannya adalah, pantaskah mereka marah atau pantaskah mereka dilecehkan? Seringkali kita marah jika di lecehkan, tapi kita selalu memberi kesempatan untuk dilecehkan.

Kita menghina negara kita sendiri yang kotor dan tak terawat dibanding negara tetangga, tetapi siapa sich yang mengotori dan tidak merawat negara nya itu. Dari penumpang becak sampai penumpang mobil mewah, banyak yang dengan mudahnya membuang sampah di jalan raya dan setelah itu berkomentar kalau negaranya kotor. Budaya bersih kadang merupakan hal yang lucu. Aku yakin banyak dari mereka tidak suka kalau tempat tinggalnya kotor, tapi mereka tidak keberatan kalau lingkungannya kotor. Aku tahu sendiri bahwa seorang teman menjaga rumahnya sedemikian rapi dan bersih dan itu dilakukan tanpa pembantu, tapi dia juga membuang sampah begitu saja keluar mobil. Kebersihan dimulai dari diri sendiri, mungkin kata-kata ini harus diubah menjadi kebersihan dimulai dari lingkungan. Begitu banyak banyak manusia egois yang menginginkan kebersihan bagi dirinya sendiri tapi tidak bagi lingkungannya. So bagaimana pendapatmu?

” It’s so much easier to suggest solutions when you don’t know too much about the problem.” Malcolm Forbes


Leave a response

Your response:

Categories