
Hari Sabtu tanggal 31 Mei 2008, berangkatlah kita ke rumah seorang teman di Malang. Berangkatnya agak kesiangan dari yang sudah dijadwalkan, maklum bawaan liburan pasti pengennya molor melulu. Singkat kata setelah urusan ngobrolnya selesai gantian deh perutku “ngobrol”. Tapi jangan kuatir deh kalau urusan kuliner, Malang merupakan salah satu basis wisata kuliner di Jawa Timur. Pilihan akhirnya jatuh pada Bakso Cak Gundhol, alamatnya Jl. LA Sucipto Timur No. 189. Kebetulan lokasi tidak jauh dari tempat kita ngobrol, cuman macetnya itu yang lumayan mengganggu. Kebetulan waktu itu tidak begitu ramai dan tanpa buang waktu langsung deh saya pesan bakso campur usus + kulit. Dengan harga Rp 7.500 untuk campur (Rp 1.250 per pieces) cukup terjangkau untung kantong cekakku hehehe. Rasa dan kualitas ok, karena selain porsi yang lumayan mengenyangkan rasa dan ukuran tidak mengecewakan. Satu hal menggelikan adalah bahwa penulisan Cak Gundhol itu bermacam-macam, dari Gundhul, Gondhol, Gundhol tapi maksudnya mungkin kalau pemiliknya itu gundul kali ya. Kalau yang beginian lapor di kantor pajaknya pake nama apa yach sebenarnya hahahaha (gilee lagi makan aja masih mikir tentang pajak). Ohya Warung ini memasang tag chinese food, so sebagai peringatan bahwa mungkin bakso ini mengandung unsur hewan yang di haramkan. Tidak aku tanyakan langsung sich, tapi aku cukup yakin akan maksud tersebut. Ok kalau gitu, bagi yang berminat silahkan meluncur kesana.
“Food for all is a necessity. Food should not be a merchandise, to be bought and sold as jewels are bought and sold by those who have the money to buy. Food is a human necessity, like water and air, it should be available”. Pearl Buck (1892-1973) American Nobel Prize winning author.